Thursday, April 25, 2013

Rumah dengan Arsitektur Jawa, Pengenalan Pertama



      Omah dan Pendopo merupakan dua bagian yang penting dalam rumah adat jawa. Dua struktur ini punya makna ganda seperti manusia. Omah adalah bagian pribadi yang orang luar tidak diperbolehkan untuk masuk, sedang pendopo adalah bagian sosial atau umum dimana orang orang bisa berkumpul dan bersosialisasi dan Pringgitan adalah ruang antara keduanya. Karena dari makna pentingnya itu rumah- rumah dalam kebudayaan jawa bisa dikatakan belum lengkap tanpa pendopo di depan rumah. Menurut Gunawan Tjahjono 1986 ketika lahan telah di pilih untuk banguna maka Si penghuni harus menanam dua macam pohon pisang ditengah –tengah lahan itu yaitu pisang raja dan pisang mas. Jika pisang raja tumbuh yang lebih dulu maka pusat rumah harus di bangun pada posisi pisang raja itu sedang pohon pisang masnya harus di pindah didepan pisang raja.,sebagai tanda tempat untuk pendopo.  Jika yang terjadi sebaliknya maka bagian tengah dari lahan harus diperuntukkan untuk pendopo sedang bangunannya dimulai di titik yang agak kebelakang dari tengah.


     Diantara para sarjana-sarjana terdahulu yang tertarik dan membuat langkah pertama untuk meneliti Arsitektur Jawa adalah arsitek hindia belanda Henry Mclaine Pont 1923 dan Thomas Karsten, dalam tesisnya tentang arsitektur jawa, Pont dan Karsten berpendapat bahwa tradisi bangunan jawa, yang mana mereka percaya, telah  berkembang yang mana puncaknya adalah adanya bangunan pendopo kraton (istana). Pada sisi lain, arsitek hindia-belanda, Wolff Schoemaker(1930-an) berpendapat bahwa pendopo kraton jawa adalah inti dari bangunan atau merupakan bentuk awal dari arsitektur rumah jawa.


      Studi arsitektur Mclaine Pont mencoba membuktikan bahwa sistem bangunan jawa berkaitan erat dengan logika sistem struktur(bangunan) modern. Apa yang terjadi pada  proses penelitian arsitektur pont adalah adanya penggunaan logika matematika  dibalik prinsip pembangunan bangunan pada bangunan- bangunan penting di pulau jawa, misal pada Masjid Agung Yogyakarta, Masjid Agung Cirebon, Bangsal Witana Solo, and Pendopo Agung kraton Yogyakarta
Abidin Kusno (2000), seorang arsitek Indonesia, sejarawan, dan dosen di University of British Columbia, mengungkapkan teorinya bahwa sementara masyarakat jawa membangun tradisi yang be rkaitan dengan sistem budaya sosial hirarki yang lebih abstrak  pada awal abad ke 20 di masyarakat jawa. Penelitian pont menyoroti lebih luas dan rasional bahwa tradisi arsitektur ini kelihatannya netral dengan sistem bangunan yang pragmatis serta gaya arsitektur.
Stephen Cairn, seorang dosen dan sejarawan arsitekur di University of Melbourne, Australia,  menguji debat tentang arsitektur jawa antara Mclaine Pont dan Thomas Karsten dengan Wolff Schoemaker berpendapat bahwa pandangan Pont dan Karsten pada pendopo adalah sebuah ungkapan arsitektural yang ideal, sebuah kesatuan dari kejelasan struktur bangunan,fungsi untuk umum dan bentuk keindahan. Dan pada pandangannya , tradisi vernacular adalah conceived utama sebagai suatu kosakata keindahan bangunan, tanpa mengesampingkan nilai-nilainya, kegunaan, dan keutaamaan diantara masyarakat yang membangunnya.
      

      Dari pendapat diatas , mengabaikan dari perbedaan titik pandang ketiganya, Pont, Karsten dan Schoemaker berbagi sebuah kesamaan pendapat yang telah memberi arti penting pada arsitektur jawa, mengenai komposisi bangunan kraton dan bangunan perumahan secara umum. Pendapat ketiganya berhenti pada titik ini dan tidak ada thesis selanjutnya tentang nilai tektonik dari pendopo sebagai bentuk awal dari rumah jawa termasuk didalamnya proporsi dasar dan sistem modulnya, Di tahun 1985, Josef Prijotomo mengemukakan penelitiannya tentang petungan atau sistem perhitungan pada arsitektur jawa dan berlanjut dengan beberapa artikel yang menggunakan naskah naskah kuno yang menjelaskan tentang rumah jawa, diantaranya Kawruh Kalang (antara 1882 hingga 1906) dan Serat Centhini (naskah abad ke 18).
Diterjemahkan dari http://yuliantoqin.culture360.org

No comments:

Post a Comment