Monday, April 1, 2013

Mengenal Arsitektur Jawa


Arsitektur Jawa Tidak Jadul

Orang jawa yang hidupnya masih berpedoman pada akar budaya ketika akan membangun rumah atau mendirikan rumah perhitungan awalnya pastilah bagaimana nanti bentuk atapnya dan seberapa luas atap rumah nantinya. Tapi orang dijaman sekarang ketika membangun rumah hal pertama yang dibuat adalah denah dengan perhitungan berapa nanti jumlah kamarnya. Itu adalah dua perilaku yang berbeda yang memperlihatkan beda pemikiran orang jawa ketika membangun rumah dengan orang modern. Menurut dosen Jurusan Arsitektur di Jurusan Teknik Arsitektur UNS Solo, Muhammad Muqoffa, ketika wawancara dengan Espos, di fak. teknik UNS, arsitektur Jawa memang mengedepankan cakrik dan konstruksi atap sebagai landasan dalam membangun rumah. Yang menjadi landasan pertama adalah cakrik atap, menurutnya ketika filosofi arsitektur Jawa diterapkan, bentuk cakrik yang dihasilkan juga akan mengutamakan ketentuan tentang sirkulasi udara didalam rumah. Karena atap rumah dinilai sebagai payung , sehingga pasti akan ada jarak antara payung dan yang dipayungi, jarak itulah yang merupakan jalan untuk sirkulasi udara didalam bangunan rumah jawa.

Apapun bentuk cakrikrumah yang dibangun apakah joglo, panggangpe, limas an, kampung ataupun tajug dan sebagainya. Pasti ada ketentuan dalam hal sirkulasi udara. Jika di teliti sungguh-sungguh secara keilmuan arsitektur modern, jalan udara atau ventilasi udara ini sudah menjadi ketentuan  bagi rumah yang berada didaerah tropis. Itu membuktikan bahwa ilmu arsitektur Jawa dari filosofi membangun rumah ini telah menyesuaikan dengan keadaan alam dan lingkungannya tanpa batasan waktu, menurutnya.

Rumah yang dibangun berdasar ilmu arsitektur modern mengedepankan pada cakrik bangunan dasar yang disebut pondasi. Pondasi yang berwujud aneka ragam seperti sumuran, batukali dan lainnya memiliki ketentuan yaitu menghujam ke tanah. Sedang arsitektur jawa mempuyai ketentuan yang berbeda . Bangunan rumah tidak berdiri diatas pondasi seperti ketentuan arsitektur modern tersebut.

Atap (payon)

Rumah jawa berdiri diatas umpak, Yang mana umpak tersebut tidak menghujam ke tanah seperti pondasi. Umpak hanya sebatas menempel di tanah. Konstruksi umpak ini mendukung atau menyangga bangunan  utama rumah jawa yang berupa atap (payon) yang bersifat elastis, tidak kaku. Konstruksi Atap /payon rumah Jawa bersifat mudah dirakit dan juga mudah dibongkar, Ketika ditopang oleh konstruksi  yang terletak diatas umpak menjadikan rumah jawa semakin bersifat elastis.
Sifat elastis inilah yang menjadikan rumah jawa ini mampu mengikuti pergerakan  tanah karena gempa. Adanya perhitungan tentang umpak, konstruksi atap atau payon, yang dapat menjadikannya bersifat  elastis, menurut muqoffa menyimpulkan bahwa arsitektur jawa tidak kuno atau ketinggalan jaman. Atau bahasa gaulnya jadul.

Sayangnya ilmu arsitektur jawa ini telah tersisih ataupun dipandang sebelah mata, di bidang ilmu arsitektur saja bahkan tidak ada kajian yang layak untuk membahas ilmu arsitektur jawa. Kebanyakan dari studi yang dilakukan mengenai ilmu arsitektur modern yang berkiblat pada ilmu arsitektur dari mancanegara, di fakultas teknik UNS sendiri sudah ada laboratoriun arsitektur jawa dan juga ada matakuliah tentang arsitektur jawa namun belum dimanfaatkan secara sungguh-sungguh untuk mempelajari dan memberdayakan arsitektur jawa ini. Hanya sedikit sekali mahasiswa yang tertarik mempelajari tentang arsitektur jawa, semoga kita tetap bisa mempertahankan dan melestarikan arsitektur asli Indonesia ini. Sumber dari http://www.geocities.com


No comments:

Post a Comment